Aku, Kamu, Mereka & Matinya Harapan

Lalu lintas sore itu cukup padat. Ya, memang tidak bisa dibilang padat jika kita tinggal di kota besar seperti ibukota Jakarta. Kota yang penuh sesak dan dibanjiri oleh manusia yang mempunyai tujuan yang sama: Menjadi Lebih Bahagia.
Kota Jakarta dengan segala keruwetan, macet, politik, artis dan tetek bengek lainnya tidak membuat surut semangat juga keputus asa-an untuk mengadu nasib di kota Monas ini.
Berbekal cerita, tontonan TV yang selalu memberitakan ibukota, dan lupa akan macet atau banjir juga terjadi di belahan ibu pertiwi, mereka (kami) mengejar mimpi yang disajikan media massa nasional.
Anyway, sore itu asap yang keluar dari knalpot butut metro mini, mobil mewah dan bahkan motor yang dikendarai ojek online masih setia memenuhi udara Jakarta.
Aku turun dari Transjakarta (kau adalah perantau sejati saat teman sejatimu adalah Transjakarta. At least ini versiku). Tepat setelah keluar dari jembatan penyebrangan seorang lelaki paruh baya duduk bersender di tiang jembatan penyebrangan. Kaos kuningnya lusuh dan sudah usang tidak terpakai sepenuhnya di badannya yang kurus.
Rambut tipis yang menghiasi kepala kecilnya terlihat berdebu dan keabu-abuan.
Ia tersenyum kepada semua orang yang melewatinya, kadang tertawa sambil melihat dari atas sampai bawah orang-orang itu. Kadang ia mengangkat tangannya dan menunjuk orang-orang. Membuat beberapa perempuan yang hendak melewatinya gusar dan sedikit mengambil jarak.
Saat aku hendak melewatinya, ia melihatku dan tertawa, kemudian bangkit. Serta merta aku langsung menegakkan badan dan awas.
Jangan salahkan, di kota ini semua bisa jadi duit. Bahkan orang gila pun bisa masuk penjara karena pura-pura gila demi sesuap nasi. Putus asa memaksa mereka “membuntungkan” kaki demi rupiah. Mungkin demi makan, rokok atau susu bayi di rumah.
Berbagai alasan mereka lontarkan, air mata akibat urbanisasi yang tak terkontrol menjadi senjata mereka agar tidak dipulangkan.
Aku juga perantau. Aku merantau dari kecil. Dari lulus SD. Aku tahu rasanya susah, mungkin tidak sesusah mereka. Salahkan siapa?
Siapa suruh datang Jakarta, begitu slogan yang sempat booming beberapa waktu lalu. Atau itu judul film? Aku lupa.
Dan ternyata si bapak yang tertawa tadi hanya melewatiku begitu saja. Sambil masih tertawa melihat orang-orang berseliweran di trotoar jalan.
Aku melihat punggungnya dimakan keramaian.
Aku berpikir. Apa yang ditertawainya? Apa yang dilihatnya. Apakah sebegitu lucunya? Bagian mana yang lucu? Muka peluh keringat bercampur dengan bedak mahal yang sudah mulai luntur? Atau bahu-bahu yang tunduk karena membawa laptop kantor? Mungkin kepala-kepala yang digembok oleh layar smartphone?
Aku berpikir keras. Ya, it’s literally. I was thinking hard.
Dan entah kenapa, penggalan kata-kata Rami Malek dalam series Mr Robot season kedua,

“ending the day’s loop. You might not think it’s a way to live, but why not? Repeating the same tasks each day without ever having to think about them, isn’t that what everybody does? Keep things on repeat to go along with their “NCISes” and Lexapro. Isn’t that where it’s comfortable? In the sameness?”

Mungkin itu yang ia tertawakan. Our sameness.

cscnle6ukaaxf4p
Hal-hal yang selalu sama, hal-hal yang selalu berulang. Bangun tidur, mandi. Berangkat kerja. Merutuk kemacetan, membaca berita yang kadang hanya memupuk apatisme di dalam diri, bergosip tentang bos, kolega kerja, menyumpahi birokrasi kantor saat makan siang, kemudian pulang.
Dan saat Sabtu – Minggu datang, sofa dan tempat tidur menjadi tempat pujaan, menjadi sangkar emas.
Merutuk kembali saat melihat banyak teman “yang sepertinya” bahagia dalam sosial media. Menyalahkan pilihan.
Kemudian hal itu terus terulang-ulang. Hari demi hari. Tahun demi tahun. Mengulang. Seperti lagu dalam playlist yang dimainkan dengan mode “repeat one”.
Kita mencari kebahagiaan dalam pengulangan. Dalam kesamaan. Dan menjadi beda adalah sebuah tantangan yang hanya diambil oleh beberapa dari kita yang berani,
Mencari kenyamanan, kemapanan dalam pola 9-5 atau mungkin 8-23. Kemudian menyesali semua pilihan yang tidak kita ambil hanya karena itu tidak sama. Itu beda.
Tidak salah. Tidak ada yang salah untuk menjadi sama, untuk melakukan hal-hal secara berulang-ulang.

Teringat sebuah posting di 9gag dan boredpanda tentang seorang pemuda yang menjual semua harta bendanya untuk sampai ke Amazon. Dan karena kehabisan dana, akhirnya ia memilih untuk berjalan kaki menuju mimpinya. Sampai akhirnya ia meninggal karena kecelakaan pesawat
Semua pilihan.
Sudah berapa banyak yang terbuang karena gengsi? Dianggap setia kawan saat rela nongkrong sampai subuh. Menukarkan waktu, uang demi berbotol-botol bir? Bercangkir-cangkir kopi? Tas jutaan, sepatu ratusan ribu. Memahat diri untuk pengakuan sosial.
Kemudian kembali sumpah serapahi diri saat melihat sosial media yang penuh dengan pantai, gunung, landscape city di luar negeri.
“Hmm, enak ya, jalan-jalan terus”
“Gile, banyak nih gajinya, tiap weekend mantai mulu”
“Apaan sih kerjanya, jalan-jalan terus”
Ini hanya masalah prioritas.
Sebagian dari kami membeli pengalaman dari 9-5 kami. Sebagian dari kalian sibuk mempersolek diri. Membeli barang-barang berharga untuk dipakai.
Ini hanya masalah bagaimana menggunakannya saja.
Dulu, ketakutan terbesarku mungkin takut kepergok suka merokok oleh orangtua dan guru. Mungkin juga UN nasional. Beranjak dewasa ketakutan berubah, tidak dapat pekerjaan, ketakutan tidak memiliki gaji yang cukup.
Tapi sekarang? Aku takut menjadi tua dan menyesali semua pilihan yang tidak kuambil yang tidak aku kerjakan di atas ranjang penuh dengan selang-selang dan bau obat yang tercium.
Aku takut tidak mempunyai cerita. Cerita untuk anakku, cucuku. Bahkan untuk diriku sendiri.

BUY EXPERIENCE, NOT THINGS. SPENDING ON EXPERIENCES MAKES PEOPLE HAPPIER THAN SPENDING ON THINGS. THINGS GET BROKEN AND GO OUT OF STYLE. EXPERIENCES GET BETTER OVERTIME YOU TALK ABOUT THEM.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s