WHAT I LEARN FROM JAPAN COMPANY

Semenjak kuliah, pekerjaan yang aku imajinasikan akan menjadi bagian hidupku adalah, aku bisa bekerja dimana saja. Mau sambil tiduran, di kosan, jam 10 malam, atau jam 7 pagi, pokoknya dimana saja selama aku mempunyai akses ke dalam pekerjaan itu.
Mungkin akses yang kita tau dan merajai pikiran kita adalah Internet. Tidak salah, akhirnya entah bagaimana hari ini aku mendapatkannya. Setelah 3 tahun bekerja di 8 perusahaan yang berbeda. Yep! You read it right! This is my 9th company for 3 years!
Tetap ke kantor, tapi tidak harus kerja di meja. Bosan? Silahkan bekerja di sofa, mau cari udara segar? Jalan saja ke taman. Lembur? Yaa, kalau lembur mungkin memang siangnya kau habiskan dengan tiduran di sofa dan berjalan di taman, hahahahaha.
I can access my work everywhere, thanks internet. Untuk orang lain mungkin ini adalah hal menyedihkan, karena mungkin bos tidak mau tau kamu dimana, kamu harus bisa membalas emailnya. Buatku? Errmm… not really, as long as I can get feedback from them ASAP and no longer than 2 hours in the weekend, I will do that.
Aku pernah tinggal di pulau Dewata, Bali. It was awesome, karena satu dan lain hal, akhirnya aku kembali meradukan nasib ke Jakarta. Ini tulisan bukan tentang biograpiku, tapi tentang apa yang aku pelajari saat aku ‘tersasar’ di perusahaan multinasional pertamaku. Lucky (?) me perusahaan multinasional pertamaku adalah perusahaan Jepang.
Jepang yang terkenal dengan budayanya, disiplinnya, dan juga mungkin JAV-nya? Hahahahaha!
Mungkin banyak beredar di internet tentang apa yang bisa diambil dari gaya bekerja perusahaan Jepang ataupun bekerja di Jepang. Yang pasti adalah menghargai waktu.
Lalu apa lagi? For me, myself. Aku punya 3 poin yang betul-betul merubah cara pandangku tentang sesuatu, bahkan mungkin hidupku.

Jam tangan itu penting

img_20161031_160832_hdr
Sampai sebelum bisa menghasilkan duit sendiri, jam tangan adalah barang mewah dan menurutku hanya untuk gaya-gaya an. Dulu aku lebih sering mengoleksi gelang-gelangan di pergelangan tangan, biar terlihat sangar! Rrrr…!!!! Seiring berjalannya waktu, akhirnya aku memakai jam tangan dan dapat menghargai apa makna jam tangan tersebut untuk at least diriku sendiri. Kini hampir selalu saat aku melihat jam tangan yang kini selalu nongkrong di pergelangan kiri tanganku, aku berpikir, kemana ya waktu itu pergi? Oh iya, tadi aku nongkrong, merokok, dan hal-hal useless lainnya. It got me thinking, karena saat berada di perusahaan Jepang itu, waktu sangat berharga, makan harusnya 1 jam. Datang harus tepat waktu. Tidak ada alasan macet, atau apapun. Dan hingga kini, pekerjaan yang paling membosankan menurutku adalah menunggu. Menunggu klien, menunggu panggilan meeting (karena si klien adalah bos besar, setidaknya itu yang kupercaya), jadi memang dia sangat sibuk.
Aku lebih menghargai waktuku. Aku takut saat putih sudah menjadi warna dasar rambutku, keriput sudah menginvasi wajahku, dan otot sudah tak mau lagi tumbuh, aku menyesali banyak hal yang belum pernah aku lakukan. Aku takut.


Jangan puas karena tahu kulit

manfaat-kacang-tanah-alodokter
From: google.com

Saat mengerti sesuatu, atau mengutarakan ide kepada mereka (Bos Jepang) akan selalu ada pertanyaan 5x WHY. Why 1: kenapa harus ini?, Why 2: Kamu Yakin ini akan berhasil?, Why 3: Adakah yang pernah melakukannya? Apakah berhasil?, Why 4: Bagaimana cara mengetahui ini berhasil atau tidak?, dan yang terakhir adalah Why ke-5: Coba cek dulu ke target marketmu, minimal 10 orang. *sigh*


 

PNI

Continuous-Improvement-400x240.jpgimage from: Behlen MfgCo

Positive, Negative, Improvement.
Ini adalah rumus mati jika sedang berhadapan dengan siapapun. Klien, Teman, atau siapapun. Pendapat pasti selalu berbeda, apapun yang dibahas, jika memang ternyata sepikiran pasti ada hal kecil yang tidak sesuai dengan apa yang kita mau. Nah untuk menyampaikannya, kita mulailah dengan mengucapkan terimakasih kepada si penyampai pendapat. Kemudian baru utarakan sanggahan disertai alasan-alasan yang sangat logic dan memiliki dasar, kemudian baru yang terakhir berilah mereka sesuatu untuk berubah, tips, arahan, atau apapun.
Karena tidak ada orang yang mau langsung dihajar di depan. Pilihlah menghajar di tengah, karena manusia cenderung sangat suka disanjung dulu baru dijatuhkan, hahahahaha.

 


In business, 3 adalah angka keramat

250

Image from americanshifter

Tidak peduli kamu habis begadang, atau nyawamu masih berada di dalam kamar, tidak menjawab pertanyaan dalam 3 detik adalah kiamat. Kamu akan dianggap gak tau dan terkesan tidak memiliki persipan apa-apa sebelum bertemu. Walaupun tidak tau, berusahalah untuk tetap bersuara jangan sampai diam tanpa suara.
Dalam memberikan komentar dan tanggapan pun seperti itu, termasuk untuk ide dan lainnya. Dengan hanya menyuarakan 1 komentar, ide orang lain kan menganggapnya tidak serius, tidak perlu terlalu dipikirkan. Sebaliknya, jika lebih dari 3 akan terlihat terlalu banyak dan tidak masuk akal. Karena otak manusia tidak semuanya bisa menyerap banyak informasi dalam satu waktu. COntoh kecilnya saja saat kita berada di kelas, meskipun itu adlah pelajaran favorit kita, tidak semua intisari dan informasi yang dituangkan dosen dapat kita serap sepenuhnya.


Pelajaran selalu ada di mana saja, tidak harus di kelas yang dibayar perbulan, pertahun. Tidak harus mendapatkan gelar seusai mendapatkan suatu pelajaran.

Will post another lesson that I got from everywhere, everyone I meet.

“INSPIRATION IS EVERYWHERE & OFTEN IN UNEXPECTED PLACES: YOU JUST HAVE TO KEEP YOUR EYES OPEN”

Find more my writing here

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s