Sherlock Holmes Dalam Pikiran Anak SD

Perkenalanku dengan Sherlock Holmes adalah saat aku duduk di sekolah dasar. Saat itu (90an) kami tidak punya komputer, smartphone dll yang bisa membuat kami senang bahkan saat berada di rumah saja. Sendirian. Tidak.
Kebahagiaan kami adalah saat di luar sudah berkumpul beberapa teman berteriak memanggil untuk mengajak bermain.
Tidak peduli apapun yang kami mainkan, selama kami berada di luar rumah bersama-sama semuanya jadi senang. Sepak bola di atas aspal, petak umpet, bermain kelereng, layangan, dan lainnya. Saat kami berada di dalam ruangan pun, kami menghabiskannya bersama teman.
Menonton film bersama, bermain video game (yang biasanya akan diakhiri dengan berantem) dan membaca komik.
Inilah saat pertama kali aku berkenalan dengan Sherlock Holmes. Salah satu teman SD ku sangat suka dengan komik, bahkan hingga saat ini. Tak peduli berapa duit yang ia keluarkan untuk membeli komik. Mungkin kini saat ia tinggal di Batam pun, aku yakin koleksinya bertambah meski 1 atau 2. Hai Gibran!! Thanks!
Komik detektif Conan, di jilid pertamanya membahas bagaimana nama Conan bisa muncul. Diambil dari salah satu penulis cerita detektif terkenal, Arthur Conan Doyle.
Dan nama Holmes juga sempat beberapa kali muncul di komik itu. Yahh, namanya anak-anak, aku ingin tahu seperti apa Sherlock Holmes itu.
Akhirnya, aku konsumsi berbagai novel terjemahan Conan Doyle itu. Study in Scarlett, The Hound Of Baskervilles, The Adventure Of Sherlock Holmes, dan lainnya. Akhirnya aku jatuh cinta dengan novel detektif, sebut saja Agatha Christie dengan Poirot-nya. Hmm.. I love them.
Anyway, mengkonsumsi cerita detektif dengan banyak pembunuhan di dalamnya tidak menjadikanku “Liar”.
Bahkan hingga kini saat film series Sherlock Holmes muncul, woaahh! I’m really excited! We’re talking about Bennedict here, not Robert Downey Jr.
Mungkin jika kalian adalah penggemar Iron Man sekaligus Robert Downey, sherlock holmes yang diperankannya sungguh bagus. But not for me.
I’m sorry, I prefer Bennedict. Angkuhnya, sembrononya, cara biacaranya, bagaimana ia memperlakukan Mrs. Hudson, Lestrade dan John Watson, hampir benar-benar mirip dengan apa yang kubayangkan saat aku mulai menyelami pertualangannya.
Setidaknya inilah yang kudapat dari membaca cerita serial detektif karya Conan Doyle ini:


1. Membaca membuatmu kaya!

sherlock-holmes-reading-book-animated-gif

Dalam novel dan filmnya, Sherlock terkenal akan kesimpulan-kesimpulan yang diperdengarkannya sesaat setelah ia melihat sesuatu. Bahkan hal ini juga diadaptasi oleh film serial The Mentalist. Sherlock bisa mengetahui kau habis makan apa saja, bagaimana hubunganmu dengan orangtuamu, apa yang kau sembunyikan dari orang lain, binatang apa peliharaanmu, shampo yang kau pakai bahkan berapa lama kau tidak mandi hanya dengan bertemu dan bertatap muka denganmu. How come? Bagaimana bisa?
Karena Sherlock banyak membaca. Bagaimana noda tinta di baju seseorang bisa berbicara banyak tentang dirimu saat bertemu Sherlock? Mungkin Sherlock pernah membaca tentang macam-macam tinta dan jenis-jenis tinta yang dipakai di seluruh dunia.
Banyaklah membaca, membaca tentang apa saja menbuatmu banyak tahu, kimia, biologi, apapun yang kamu sukai. Bacalah, baca, baca. Saat kau bertemu dengan orang lain, banyak informasi yang kau dapat dari membaca yang bisa kau aplikasikan, tidak harus menjadi observer seperti sherlock, kau dapat mengaplikasikannya untuk memulai obrolan dengan siapapun yang menyukai apapun. Kenapa bisa dengan siapapun dan yang memiliki hobi dan interest apapun? Simply because you read!
Mulailah gunakan uangmu untuk membeli buku, mulai gunakan media sosial mu untuk memperkaya akalmu. Mulai mengetik sesuatu yang ingin kau ketahui di kolom url Google mu. Gunakan, eksplor, jadilah kaya!


2. Kau Bisa Menjadi Apapun Yang Kau Inginkan

Benedict-Cumberbatch-as-Sherlock-Holmes-GIF.gif
Selain dikenal sebagai detektif swasta, Sherlock juga menguasai beberpa beladiri: Tae Kwondo, Swordsman, Singlestick, Tinju, Jijutsu.
Beberapa hal yang ia lakukan saat bosan: Bermain biola (he’s good at it), bereksperimen (kimia, biologi), membaca dan menembak dinding. Waw. Ini bukan tidak mungkin dilakukan dan dikuasai oleh siapapun. Ini mungkin saja terjadi.
Sherlock bertemu dengan tandemnya di umur 30 tahun. Saat itulah masyarakat mulai mengenal sepak terjang Sherlock secara luas (berdasarkan cerita dalam novel). Berarti mungkin saja: 2 tahun untuk menguasai beladiri, 1 tahun biologi, 1 tahun kimia, 3 tahun belajar biola, selebihnya tinggal mengasahnya saja. Oh iya, 4 tahun belajar banyak bahasa. Di total ada 11 tahun yang ia habiskan untuk semua itu (Ini hanya perumpamaan saja).
Bisa dibilang mungkin ia memulainya dari umur 16 tahun. 16+11 = 27 tahun. 3 tahun mengasah semuanya, umur 30 bertemu Watson. Make sense?


3. Uang Bukanlah Segalanya

giphy.gif
Dari banyak kasus yang dibukukan oleh Watson tentang temannya, mungkin banyak di antaranya yang diambil secara sukarela atau pro bono. Jikalau memang menerima uang, kebanyakan yang menerima adalah Watson sang dokter. Bukan Sherlock. Saat berhadapan dengan kasus yang mengikutsertakan keluarga kaya pun, jika kasus itu tidak menarik minatnya, Sherlock tidak akan mengambil kasus itu. Pun sebaliknya.
Sherlock tidak terlalu menyukai uang, namun ia tahu bagaimana menggunakannya. Mungkin juga ia tau bagaimana uang bekerja untuknya, namun yah…. Sherlock adalah sosok yang sangat tergila-gila dengan sesuatu yang membingungkan diri sendiri.


4. Bingunglah Maka Kau Hidup

tumblr_n58ne173Wf1tqxsfgo5_500.gif

Tanda bahwa kau hidup ada banyak. Descartes, sang filsuf ternama dari Perancis. mengatakan Cogito ergo sum artinya adalah: “aku berpikir maka aku ada”.
Saat menjadi Wartawan di Pulau Dewata, aku juga belajar, buat reporter, penulis, slogan ini adalah: Menulislah, maka kau ada.
Sama halnya di poin sebelumnya, yang menyebabkan Sherlock tidak membunuh dirinya sendiri karena pikiran liarnya adalah rasa keingintahuan dan kebingungan yang dimilikinya setiap menangani kasus. Semakin kasus itu membuatnay bingung, semakin semangat juga ia. Hampir selalu di setiap kasusnya ada adegan dimana ia pergi ke perpustakaan dan membaca sebuah buku yang mungkin saja ada hubungannya dengan kasus yang tengah ia tangani.
Kebanyakan teman, bahkan diriku sendiri mengaku kebingungan akan hidup yang sedang dijalani. Tidak tahu arah tujuan, tidak tahu apa yang dikejar, tidak tahu harus berbuat apa. Tenang, kamu tidak sendiri. Bingunglah, itu tanda bahwa kau berpikir dan kau hidup.
Tapi bingunglah dengan bertanggung jawab. Bertanggung jawab atas kebingunganmu. Cari jawabannya, cari solusi atas kebingunganmu. Jangan diam dan tenggalam dalam kebingunganmu.
Lihat lebih dalam, selami kebingunganmu, dan temukan lentera jawabannya.


5. It’s okay to be jerk sometimes

reichenbach-1438871556.gif
Hahahaha, it’s true. Mau di novel maupun di Film sifat arogan dan apatis Sherlock bahkan sampai hampir memisahkan dirinya dengan satu-satunya temannya, Watson.
Ada sebuah kalimat yang kurang lebih seperti ini, “Apakah kalian tidak capek hidup dengan otak yang tidak kalian gunakan sama sekali!?” Kalau aku tidak salah itu adalah kalimat Sherlock di sebuah scence filmnya. Terkesan brengsek memang, atau memang brengsek?
Tapi jika kita baca kalimat tersebut dan pelan-pelan memahaminya, mungkin ada benarnya juga. Otak manusia itu indah, indah sekali. Bahkan menurut study, otak kapasitas otak manusia adalah kurang lebih 2,5 petabyte atau 1 juta TB.
Hanya saja kita tidak bisa mengendalikan otak kita sendiri, terlalu banyak distraksi, gangguan yang menyebabkan kita hanya bisa memakai sebagian kecil otak kita untuk produktif.
Sudah tau begitu, kita malah malas untuk menggunakannya, kalkulator, hello google menjadi andalan kita. Mungkin juga saya.
Sayang. Thank you Sherlock.

Additional:

Sherlock holmes lahir tanggal 6 Januari 1854, ia bertemu dengan Dr. Jhon Watson di umur 30 tahun.

Dia adalah pecandu narkoba. Kokain dan morphin adalah andalannya. Ia memakainya hanya saat ingin berkonsentrasi penuh dan dia paham batasan badannya. Bahkan di beberapa tulisan dikatakan ia bisa merehabilitasi dirinya sendiri (Juga tentu dengan bantuan Dr. Watson)

Sherlock termasuk orang yang rapih dan stylish.

Pipa yang ia gunakan untuk merokok terkadang juga berisi opium.

Pembuatnya Sir Arthur Conan Doyle ingin membunuhnya, salah satu alasannya adalah Sherlock lebih terkenal daripada dirinya si penulis asli.

Kalo ada yang kurang tepat dan menyimpang atau bahkan mau nambahin fakta dari tulisan ini, silahkan komen di bawah atau hit me at edososmed@gmail.com maybe for talking 🙂

Hope you enjoy

Mampir ke tulisan lainnya di sini

Kalau suka bisa kali di share! 🙂 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s