Cerita Ada Dimana-dimana

Zaman digital memang tidak hanya serta merta membawa kita ke dalam ke-efisiensi-an yang memanjakan. Tapi juga ketakutan. Sebut saja beberapa film seperti nerve yang dibintangi oleh adik James Franco, Dave Franco juga artis cantik Emma Roberts dan Rapper Mechine Gun Kelly. Bagaimana teknologi bisa menghantui dan menjebak manusia.

Juga film series Mr. Robot yang dibintangi oleh Rami Malek , bagaimana internet bisa menguasai hidup manusia, sampai pada film baru Snowden yang menjual aktor Joseph Gordon Levitt yang memunculkan kisah dibalik konspirasi NSA.
Ya jangan lihat ke sana dulu mungkin ya, sehari-hari saja beberapa dari kita mungkin juga kamu yang membaca ini pernah menjadi korban teknologi. Akun facebook yang di hack, password yang tiba-tiba tidak bisa digunakan, dan lainnya.

Sore itu aku dapat tugas dari kantor untuk meliput sebuah acara e-cmmerce. xxxx adalah kendaraan yang disediakan kantor untuk dipakai sebagai transportasi operasional. Mau Uber, Grab, Gojek, jika memang kau adalah orang sepertiku yang haus akan cerita, para driver “Transportasi digital” ini memiliki banyak cerita seru.
Kali ini sang driver yang mengantarkanku berasal dari Medan. Batak. Muslim.

Ia memulai kisahnya dengan membanggakan dirinya beberapa tahun yang lalu, tidak salah sih. Toh kita juga senang akan sejarah, sejarah yang mengangkat nama kita. Tapi malas dan menutup mata untuk napak tilas ke dalam memori kelam dan kadang enggan untuk belajar darinya. Dan bagaimana aplikasinya dibajak oleh seseorang selama dua bulan yang mengakibatkan pendapatannya berkurang drastis. “Wah saya udah sering lapor mas, malah sebulan bisa 3x, cuma gak ditanggepin serius, barulah tadi dipanggil lagi. Cuma ya gitu, mereka gak mau kasih nama orang yang hack akun saya. Saya sampe bilang, “Kau kasih nama anak itu, kukeluarkan isi perutnya!!! Gak ada yang berani ngomong tapi”.

Ya gak bisa disalahin juga lah ya, emang salah perusahaan juga kok, hahaha. Tapi mau ngeluarin isi perut? Busett!!

Untungnya tampangku gantengnya lebih ke preman jalanan, jadi mungkin si bapak respect sesama preman. Hahahaha.

Merantau dari tahun 80an ke Jakarta, Bapak dua anak ini memulai karirnya menjadi preman. Blok M adalah lokasi yang dijadikannya untuk belajar bertahan hidup di kerasnya hidup Kota Betawi ini.

Entah bagaimana caranya, akhirnya ia kerap menjadi kepercayaan perusahaan-perusahaan besar sebgai “Jagoan Lapangan”. Urusan tanah adat yang ingin di kembangkan, proyek macet, dan kawan-kawannya, si Bapak ini menjadi langganan banyak perusahana besar.

Ia berkisah bagaimana saat ia menyelesaikan urusan tanah adat di wilayah Kalimantan. Saat semua teman-temannya kabur diburu tombak, panah, dan parang, ia hanya berdiri di sana dan berharap untuk dibawa ke hadapan sang tetua suku. Saat itu kalau tidak salah adalah suku Dayak, aku lupa nama sukunya secara tepat.
Dan saat itu, permasalahan yang katanya sudah dua bulan tidak selesai, selesai hanya dengan waktu dua jam mengobrol dengan tetua suku.

“Ya kan namanya tanah mereka, mereka mau kalaupun itu tanah dipakai, ada sebagian keuntungan untuk membangun atau mendukung program desa mereka. Sebenarnya itu saja. Waktu orang-orang itu (Direksi perusahaan) ngomel-ngomel tentang tuntutan suku, ya saya bilang aja, “Sekarang hitung saja pendapatan yang akan diterima beberapa tahun ke depan dibandingkan dengan apa yang kita berikan saat ini. Tidak mungkin kan lebih besar biaya membangun desa mereka daripada revenue yang didapat?”.

tari-perang-suku-dayak-kenyah.jpg

Source: http://perpustakaancyber.blogspot.sg

Malah ada saat dimana ia harus berurusan dengan kepala-kepala preman setempat. Pernah katanya suatu hari, ia dengan lantang dan tegas memanggil si pentolan preman, “Mana itu preman, coba sini adu sama preman nusantara (sambil nunjuk dada), mau tau gimana hasilnya kalau adu preman kampung sama preman nusantara”. Tapi gak disangka ternyata si pentolan preman gak keliatan batang hidungnya. Akhirnya proyek pun berjalan aman dan selesai. Yang lucunya, saat semuanya selesai, tiba-tiba si pentolan preman muncul.

“Ya dia minta jatah mas. Saya bilang aja, kemarin saya cari kamu yang katanya jagoan sini itu memang untuk kerja. Kamu kan pegang daerah sini, nah saya mau partner sama kamu untuk jadi kepala keamanan proyek ini. Malah kamu gak dateng. Sekarang, semua udah selesai baru minta jatah. Gak bisa lah”.

Banyak lagi kisahnya malam itu. Bagaimana dulu ia menghabiskan waktu 3 minggu di rumah sakit Pertamina karena over dosis ekstasi dan dikenakan biaya 13 juta, belum lagi terguling-guling di dalam truk pengangkut bahan batu bara di kelok sembilan, Sumatera Barat, tertabrak sesama bus saat ia menjadi Supir bus ALS (Antar Lintas Sumatera), juga saat ia menjual truk beserta isinya kepada penadah karena keluhan ya diindahkan perusahaannya. Bahkan menjual truk beserta isinya itu dilakukannya tidak hanya sekali, tapi dua kali! Pantaslah julukan preman Nusantara pas dengannya. “Yang satu truk sama isinya mas, minyak CPO, kalau satunya lagi isinya rokok. Hahahaha. Saya punya kebun sawit dari situ”
Ckckckck… terlepas dari haram halalnya, seua ceritanya seru, dan kisah yang paling saya ingat adalah bagaimana si ‘lae’ ini bertobat.

Ceritanya saat itu dia lagi makan mi ayam di depan optik Melawai Blok M (anak jakarta pasti tau ini), nah lagi asik nyeruput mi ternyata ada anak kecil lagi nyebrang terus dia liat ada metromini yang melaju ke arah anak itu, ditinggalkannya lah itu mi ayam, diselamatkannya lah si anak. Asli ini adalah cerita dia. Aku tau, kalian akan berpikir kalau ini seperti adegan di sinetron atau drama korea. Tapi ini adalah ceritanya, dia yang bilang, please don’t blame me.
Adegan si Ibu meneteskan air matanya saat memeluk si anak lah yang menjadi dorongannya untuk tobat jadi preman. “Saya pulang ke Medan mas, pergi ke Pesantren Purba, itu lho pesantren tertua di Sumatera. Saya, minta bantuan kyai sana untuk ngeluarin yang bersarang di badan saya”.

Si Lae mengaku ada 17 “sesuatu” di dalam tubuhnya. Sayangnya,hanya 16 yang bisa keluar karena satunya menolak keluar. “Kalo kata Kyai itu ya mas, yang satu itu akan keluar kalau saya sudah meninggal”.

Ya, jalan hidup orang berbeda-beda. Si Lae memilih untuk tinggal di dalam mobil rentalnya dan menyerahkan kebun nya kepada keluarganya. Bukan tidak pernah ia cuti berkendara, hanya saja… “Saya pernah libur dua minggu mas. Balik ke Medan, mau ngurus kebun saja. Tapi ternyata saya malah sakit, terus denger suara motor, mobil, bikin saya kangen lagi nyupir”

Dan hidayah pun datangnya berbeda-beda. Bisa saat memang kita sedang meminta, atau bisa saja saat tidak ada apa-apa yang terjadi.

Tipping point (istilah yang dipopulerkan oleh Malcolm Gladwell dalam bukunya Tipping Point: How Little Things Can Make a Big Difference (2000)) setiap orang berbeda-beda. Tipping point adalah dimana sebuah titik (waktu yang terikat tempat) dimana persepsi, kebiasaan, bahkan hidup seseorang berubah secara mendadak, dan efeknya cukup dahsyat terhadap kehidupan kita semua. Oleh sebab itu, tipping point bukan titik balik, tetapi titik perubahan. Ia merupakan titik kritis dari kondisi A ke kondisi B.

Banyak kisah tentang tipping point ini. Kematian orang terdekat, musibah yang menimpa, kedekatan secara religius kepada Tuhan, dan banyak lainnya. Dan biasanya tipping point lahir dari sesuatu yang tidak disangka-sangka.

Tipping-Point-630x473.pngsource:http://thewritepractice.com

Mungkin saat tipping out itu terjadilah, semua keluh kesah dan mungkin harapan juga kerjakeras kita diterima. Yang pasti hanya ada satu jawaban saat kita tidak melakukan: GAGAL! Tapi akan ada dua jawaban saat kita melakukan: gagal & BERHASIL!

Semoga menghibur. Cheers!!

More writing click here or you just can hit me at @edososmed@gmail.com for chat or maybe grab some coffee

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s