Lepas PNS, Kini ia…

Kali ini, cerita Edo terinspirasi dari:

Tukang ketoprak di dekat kosan.

Ya, tukang ketoprak! karena terkadang isnpirasi dan pelajaran tiu tidak hanya bisa ditemukan dari merenung panjang di tempat-tempat wisata oke, ataupun di sekolah, kampus terbaik luar maupun dalam negeri.

sudah 2 tahun saya membeli ketopraknya, dengan gerobak seperti kebanyakan gerobak yang ada di Jakarta, yang satu diatantaranya mungkin terkenal karena masuk TV. MAsuk TV karena ada berita soal penertiban oleh pihak Pamong Praja.

Di depan gerobak itu bertuliskan KETOPRAK CIREBON.

giphy-ceritaedo-wordpress-edomurtadha

Enak, saya penyuka makanan, selama saya beli ketoprak, rasa yang paling pas adalah ketoprak hasil buatannya. Sayang saya tidak bisa menkomsumsinya terlalu banyak.

Terimakasih asam urat!

Sore itu saya adalah pelanggan pertamanya, bahkan saya ketika memesan saja, dia masih terlihat bersiap-siap.

Mungkin karena khawatir saya menunggu cukup lama, ia berinisiatif bercerita (Bahkan tahu dan telornya pun belum digoreng).

Dulu, status sebagai PNS masih menjadi pilihan ke sekian untuk banyak orang. Status sebagai karyawan swasta lebih mendapatkan perhatian di zaman bapak-bapak kita memasuki masa puberitas. Tapi sekarang? Haiiii!! banyak yang jadi gila karena sudah menjual sawah demi uang pelicin yang masuk entah ke kantong siapa demi mendaptkan seragam pemerintahan.

Dan, si bapak ketoprak adalah mantan dari pegawai pemerintahan. Yes! He gave it up!
Di balik kesuksesan laki-laki pasti ada seorang perempuan, negitu juga sebaliknya. Di balik keputusan-keputusan seorang laki-laki, hampir semua juga dialatarbelakangi oleh seorang wanita. Menjadi PNS adalah impian kebanyakan orang, karena wanita juga-lah sang bapak akhirnya hanya bertahan memakai seragam pemerintahan.

Dengan alasan: “Waktu itu pacar saya gak mau dan gak mau ikut pindah, karena saya dipindahkan ke jambi”.

Menyesal? Mungkin iya, tapi beberapa tahun setelahnya si Bapak kembali ke daerah kelahirannya: Jakarta.

giphyketoprak-edomurtadha

Hingga tujuh tahun setelah menikahi pacarnya, ia bisa menjabat sebagai sekretaris sebuah produsen sepatu yang dulu merajai toko-toko sepatu di Indonesia.
Dari PNS sampai menjabat sebagai sekretaris. Ckckckck. Ya, keren juga.

Sayang nya bisnis memang swdang tidak bagus waktu itu. Ia habiskan waktu istirahatnya sebagai sekretaris untuk berjualan ketoprak di sore hingga malamnya.

Ya, saya pernah bertemu dengan sesama perantau di Jakarta ini, sebagai perantauan apalagi di kota besar seperti Jakarta, memiliki satu pekerjaan saja tidaka akan cukup. Pasti tergerus oleh gemerlap, peraturan, dan hedonisme kota Monas ini.

Pandai mengatur keuangan bukanlah jaminan, karena tiap hari price tag di mini market selalu berubah angkanya, dan diskon yang mereka tawarkan seperti jebakan.
Mungkin memang bakat yang ia terima dari keluarganya, ramuan bumbu kacangnya menjadi daya tarik tersendiri bagi pelanggannya. Dan malah pundi-pundi ruoiah yang ia hasilkan dari pekerjaan ‘freelance’ nya menjual ketoprak bisa melebihi penghasilannya sebagai sekretaris kala itu.

Alasan selanjutnya kenapa ia pada akhirnya menekuni pekerjaan keduanya adalah sebagai sekretaris, banyak permasalahan yang dihadapinya, terutama ketika harus berurusan dengan pekerja yang kebanyakan adalah temannya. “Ya namanya temen mas, kan susah kalo dia salah atau melanggar peraturan dan kita tidak tegas, nanti Perusahaan marah. Kalau tegas dikira gak setia kawan. Belum lagi politiknya, duh capek mas” ujarnya sambil terus mengulek bumbu kacang pesananku.

Menyesal? Pasti ada rasa menyesal dalam dirinya saat melepas jabatannya sebagai PNS, pekerjaan idaman semua orangtua sekarang demi kekasih hatinya.

Atau menyesal melengserkan diri dari kursi sekretaris yang sangat bergengsi kala itu.
Tapi sekarang? selain memiliki usahanya sendiri di gerobak ketoprak itu, kini ia memiliki sebuah truk pengangkut pasir yang ia sewakan di kampung halamannya, sebuah mobil mini van yang juga disewakan, dan juga beberapa buah sepeda motor, semua hasil dari ulekan bumbu kacangnya selama beberapa tahun.

Jangan menilai dari geribaknya saja, dibalik itu ia memiliki banyak impian yang mungkin sebagian sudah tercapai dari bumbu kacangnya.

Menyesal memang boleh, dan memang harus. Karena dengan menyesal kita belajar. Dengan menyesal kita bisa memahami apa arti sesuatu yang sudah lalu.
Jangan termakan olehnya, jadiakn ia sebagai energi baru untuk merubah penyesalan itu. Buat rasa sesal itu menjadi gundukan kesuksesan di masa depan.

Hahahaha, puitis sekali ya bahasanya?

Ya setidaknya itu yang kupelajari dari si bapak penjual ketoprak.

Kamu? Sudah belajar apa hari ini?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s