Seneng Boleh, Kangen Jangan…

Saat interview kerja atau pun freelance, kadang kita dihadirkan pada pertanyaan: resiko apa yang pernah kamu ambil dalam hidup, dan bagaimana caramu untuk melaluinya?
Dan aku yakin, masih banyak diantara kita yang berpikir lebih dari 1 menit untuk menjawab pertanyaan itu. Yang pertama mungkin kita sedang merangkai kata untuk terlihat bagus di depan interviewer, atau memang kita lupa, sudah pernah mengambil resiko apa? Atau…. kita belum pernah mengambil resiko apapun.
Jangan sedih, aku bersama kalian, bahkan butuh waktu 2 menit lebih untuk pada akhirnya aku memutuskan untuk berucap, “Aku bukan risk-taker, mungkin resiko yang paling besar yang [akan] pernah kuambil adalah memutuskan untuk menikah”
Dengan segala bayang-bayang tanggung jawab yang tersaji di kemudian hari, menjadi seorang Ayah, mencukupi kebutuhan keluarga, dan lainnya.
Aku pernah menulis tentang bagaimana rokok bisa menjadi guru, bagaimanmy-happy-facea sebatang rokok bisa membuatmu berubah. Bukan karena kau akan sakit, atau kau lebih menjadi sehat karena meninggalkannya. Bukan.
Baca di sini
Karena rokok jugalah akau mendapatkan obrolan singkat dengan sesama tamu di hotel tempatku menginap saat main ke Semarang, Kota Lumpia.
Lelaki paruh baya itu menghisap dalam-dalam rokok di tangannya, sendal hotel berwarna putih juga celana pendek serta kaos oblong seakan meyakinkan bahwa ia adalah tamu dari hotel tersebut. Tipikal pakaian yang biasa digunakan oleh tamu-tamu hotel.
Sore itu hujan, aku duduk di meja sampingnya dengan tenang dan mulai membakar rokok ku.
“Nginep di sini juga mas? Acara kantor atau keluarga,” Sapanya. Hahahaha, seperti yang aku duga, aku hanya menunggu ia menyapa atau jika tidak mungkin aku yang akan menyapanya.
“Gak pak, acara kantor, besok pagi ada event Marathon dekat Simpang Lima sana,” jawabku sambil melihat ke jalanan yang basah oleh rintik hujan semenjak siang tadi.
“Ohh, kalau saya, nemenin anak. Ada acara nikahan di sini. Yang nikahan itu udah kaya anak saya, jadi sekalian nemenin,” ceritanya tanpa kusuruh.
Ya, walhasil, topik pembicaraan sore itu adalah tentang pernikahan. Kota Semarang yang hujan, asbak yang sudah mulai tak bisa menampung puntung rokok kami menjadi saksi pertukaran pengalaman dan cerita hari itu.
“Wajarlah jika kamu takut. Takut gak bsia nafkahin kan? Takut gak cukup dan gak bisa bahagiain pasanganmu kan?, takut mulai tidak bebas dengan segala status dan tanggung jawabmu?” Tebaknya.
Ya, aku hanya bisa mengangguk sembari menyeruput kopi botol di hadapanku.
“Hahahaha, dulu juga saya, ah bukan. Semua lelaki pasti punya ketakutan seperti itu. Semuanya. Bahkan mungkin yang sudah memiliki banyak usaha, bisnis, saat pertama kalinna mereka mengambil kesempatan untuk mengikat hidup mereka dengan orang lain pasti merasakannya”.
Aku diam mendengarkan.
“Mungkin bisa dibilang tak ada yang berubah. Sama saja, jika memang ingin main bersama teman, ya bilang saja ke istri. Untuk urusan rejeki, yaa pasti cukup kok. Tenang saja,” Lanjutnya.
APANYA YANG TENANG BAPAK!!??
Ia mengambil contoh, katakanlah gaji sebulan 1 juta, saat masih lajang dan kadang kita merasakan selalu kurang. Awal bulan selalu menjadi dewi fortuna yang kita idam-idamkan.
Ketika memiliki keluarga, istri dan anak, meskipun tak ada kenaikan gaji dari kantor, ia yakini masih cukup membiayai seemuanya. Tentu dengan segala penyesuaiannya.

Ya kita lihat saja, apakah yang mereka katakan benar.
Dan biasanya memang rejeki istri, anak, itu biasanya datang kepadamu. Para suami, lelaki.
“Kalau saya, semua gaji saya kirimkan kepada istri, kemudian barulah saya minta duit harian atau bulanan dari istri. Tapi masalah rejeki yang datang di luar pekerjaan pokok itu lah yang menjadi harta saya. Mau makan sama teman, nongkrong, jalan-jalan, itu semua keluar dari pintu rejeki yang lain,” jelasnya.
Lanjutnya, sebagai suami yang menjadi kepala rumah tangga, jujur adalah harus. Hanya saja tidak semuanya. Jujurlah sewajarnya. Itu yang ia bilang.
“Kalau ada rejeki lain, ya bilang saja ke istri, tapi jangan kamu bagikan semuanya ke dia sama seperti gaji pokokmu. Simpanlah untuk dirimu sendiri, urusan mau kamu apakan duitnya, ya tergantung masing-masing orang,” imbuhnya.
Untuk urusan “jajan” ia memiliki pandangan tersendiri. Menurutnya, namanya lelaki sudah kodratnya memiliki rasa haus akan birahi yang kadang menjerumuskan mereka ke dalam jurang penyesalan, JIKA mereka tak mampu meredamnya atau menyembunyikannya.
“Namanya cowok ya, sama-sama tau aja kita, Tapi ingat, berhentilah saat ada rasa rindu. Seneng boleh, kangen jangan, hahahaha,” selorohnya.
Ini pelajaran apa, tanyaku pada diri sendiri.
“Kalaupun harus membelikan sesuatu, belikanlah yang sekali habis, jangan membelikan barang mati kepada siapapun kamu bersenang-senang. Karena benda mati bisa menyimpan kenangan. Makan saja, sudah cukup,”
Weww… ini lagi, hahahahaha. Tadi bahsannya soal bagaimana menjadi kepala rumah tangga yang baik, tapi kenapa malah lari bagaimana menjadi lelaki yang senang tapi tak kangen. Hahahaha.

i-don-amp-039-t-know-how-iggy-azalea-would-get-a-boyfriend-in-the-first-place-but-meh_o_5355143
Ya pada intinya, apa yang ia bagikan tentang bagaimana ketakutan akan berkurangnya rejeki, ketakutan tak mampu menafkahi, semuanya hampir sama dengan apa yang aku terima dari banyak orang. Dari teman-temanku yang sduah mendahuluiku ke jenjang pernikahan, dari orangtua ku, bahkan dari calon istriku sendiri.
Oke! Baiklah! Mari kita ambil tantangan ini. Tantangan menjadi suami! Tantangan menjadi kepala rumah tangga. Tangangan menjadi nahkoda, supir, pilot rumah tangga.
Wish me luck!

Semarang. Januari. 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s