Ingin & Mau itu Sama Sekali Berbeda

Wah, memang sulit rasanya jika berjanji pada diri sendiri. Berjanji pada orang lain memang hal yang gampang, bukan! BERJANJI ADALAH HAL YANG GAMPANG! MELAKUKAN DAN MENEPATI JANJI LAH YANG SANGAT SULIT!

Hari ini sudah bulan ke-3 tahun 2017, harusnya jika aku tepati janjiku pada diri sendiri: menulis 1 cerita dalam 1 minggu, cerita edo sudah memiliki lebih dari 20 cerita (digabung dengan beberapa tulisan dan cerita sebelumnya)

Ya, tapi mau gimana? banyaklah hal-hal yang bisa jadi kambing hitam, yang disalahkan, bahkan yang tidak ada pun di-ada-adakan untuk bersembunyi dari janji itu.

And the, here we are!

Tidak banyak yang bisa kita lakukan jika mengharapkan gaji, bekerja 8 jam sehari, senin sampai Jum’at menatap layar laptop sampai berjam-jam, terserang banyak penyakit karena terlalu lama ‘mematung’ dan menancapkan bokong di kursi.

15-Signs-That-You-Need-A-New-Job.gif
source: wallstreetinsanity

Apalagi bertemu orang baru, menggali/mencuri pengalaman, belajar dari pengetahuan dari banyak orang lain selain teman kantor yang setiap makan siang kebanyakan ngomongin orang, atsan, mengeluh, tapi tetap dengan rutinitas yang katanya menjengkelkan itu selama bertahun-tahun.

Untukku, naik kendaraan umum adalah sesuatu yang melelahkan dan juga penuh dengan tantangan. Bukan hanya karena ngantrinya ngalahin antrian bertemu girl-band idola demi dapetin ‘jabat tangan’, belum lagi tantangan kekurangan oksigen karena tercemarnya oksigen dalam kotak yang dibilang Bus ini, fiiuuhh. Dapat menjejakkan kaki di halte tujuan adalah hal yang melegakan, ya ibaratnya seperti buka puasa.

Bukan cuma itu tantangannya, tapi juga mencuri dengar, mencuri ide dari manusia di dalam nya. Tak banyak yang kulakukan, hanya memasang mata, berusaha tersenyum, dan jika beruntung, ada yang ngajak ngobrol. Dan akhirnya belajar dengan menemukan hal baru yang dimiliki lawan bicara.

Naik bus memang tantangan, mencari ‘sesuatu’ yang bisa dijadikan pelajaran dan kembali menuliskannya di sini.  Tapi naik taksi dan menggunakan ‘supir’ online adalah jackpot! Tidak ada bau keringat bercampur parfum-parfum pasaran, raungan anak kecil yang kepanasan, tatapan licik tak bersahabat, tante-tante yang mengeluh agar diberikan tempat duduk, dan banyak lainnya.

Sayang rasanya jika sudah begini, tidak ada pelajaran dan bahan tulisan yang terjaring. Sayang!

this-gif-sums-up-the-importance-of-public-transport-in-a-very-good-way-67182.gif
source: memeguy

Malam itu, aku menghadiri pernikahan teman sekantor yang megah! Bukan cuma karena dilaksanakan di tempat/hotel yang terkenal mahal, tapi juga karena siapa yang mengahdirinya. Mantan menteri Pendidikan, Ulama Nasional, Menteri anu, menteri itu, pejabat anu, pejabat itu, karangan bunga yang dikirim atas nama instansi-instansi negara. Wow!

Ya, meskipun aku memiliki banyak teman yang orangtuanya bukan orang sembarangan, rasanya mencuri cerita mereka kurang seru. Tinggal buka internet, ketik nama mereka, nah! Seperti membaca diari mereka! Hahahahah! Dari makan apa, bertemu siapa, pakai baju apa, tinggal dimana, korupsi berapa (uppss!) ada semua!!

Singakatnya, aku dan pacar (calon istri), memutuskan untuk menggunakan transportasi online.

10 menit, 20 menit….

pleasewait
source: dfile

Akhirnya pantat ini terjebab di kursi belakang mobil kecil itu.

“Ya, ini sih saya ngu*er juga part time aja mas”, yes! pencurian dimulai…..

Perawakannya mungkin tak setua umurnya. 46 tahun, lulusan STM beberapa puluh tahun lalu, memiliki 3 anak dan sudah bekerja kurang lebih 3 tahun di pabrik pembuatan serbuk kimia untuk campuran pembuatan marmer. Nah kan!??

Coba gak mulai ngobrol, aku tak akan tau bahwa membuat marmer yang digunakan untuk lantai dan gedung-gedung ternyata membutuhkan yang namanya campuran serbuk yang membuat tanah liat bisa menjadi cair, dan selanjutnya dicetak!? Another knowledge! I love it!

“Banyak yang di-PHK sih mas, karena belakangan kan banyak perusahaan sejeni kita dari Cina yang masukin barangnya ke Indonesia,” jawabnya sambil masih serius menatapi jalanan lengang di depannya saat aku bertanya bagaimana pengalamannya kerjanya selama di sana.

“Itulah kenapa saya punya ide untuk membantu perusahaan. Awalnya kan kita 35 orang, sebagian besar mengaduk campuran cairan dan bahan kimia sampai keras, menjadi dodol gitu, kita diamkan dodol itu sampe mengeras, barulah kita pecah lagi jadi serbuk, baru kita jual ke pelanggan,” lanjutnya.

Saat sedang susah itulah, bos besar mengadakan pertemuan informal untuk ngobrolin soal bagaimana perusahaan ini bisa berinovasi dan bertahan. Berbekal mencuri dengar, Mas Har–panggilan bapak ini mencoba memberikan ide untuk solusi.

“Karena kan ngaduknya itu lama banget, bisa sampai 3 jam lebih mas, kasian juga teman-teman produksi, mereka kecapean, yasudah kenapa gak pakai alat saja untuk ngaduknya. Akhirnya ide saya disetujui, saya dimodalin bikin prototype alat itu,” kisahnya lagi,

Dan sekarang pabrik kecil yang membantu produsen marmer itu mampu menghasilkan 180-200 ton serbuk perbulannya. Angka ini 2x lipatnya dari sebelum ada alat ciptaannya itu.

“Wah, keren dong pak?,” sanggahku.

“Keren memang mas, tapi status saya masih sebagai ‘messanger’ (Pengantar pesan dari/ke kantor) dan gaji saya, meskipun naik, tapi ya naiknya cuma naik biasa,” intonasi nya berubah. Sedih.

Padahal, kini pabrik itu sudan memiliki 5 alat buah ide dan kreasinya. Pendapatan perusahaan pun bisa dibilang naik secara signifikan. Tap dia, sang kreator tak mendapatkan apa-apa selain kenaikan gaji yang tak seberapa. Belum lagi banyak lirikan negatif dari orang produksi, karena alatnya jugalah yang menyebabkan banyak dari teman-teman mereka kini tak bekerja lagi.

“Saya harap sih, bos-bos yang lain bisa mengerti mas, maksud saya alat saya bisa dihargai,” tambahnya.

Wah bener tuh, harusnya bisa bagi komisi beberapa persen dari penjualan, dan diangkat jadi direktur operasional atau apalah! Atau setidaknya alatnya dihargai lebih tinggi daripada kenaikan gaji yang katanya tak seberapa itu, pikirku. 

“Gak coba pindah aja pak, terus ngejual alat itu ke pabrik-pabrik sejenis?,” tanyaku berusaha memberinya masukan.

“Ya sebenarnya bisa aja mas, cuma mau gimana? Gak gampang, saya juga udah mikir mau cari pabrik lain, cuma kan saya lulusan STM doang, belum lagi umur yang gak muda lagi. Ke pabrik lain, ngulang lagi jadi buruh biasa, sedangkan sekarang kan udah punya banyak tanggungan”

Aku terdiam beberapa saat. Tak selalu yang kau inginkan adalah yang kau dapatkan, pikirku.

Aku melirik pacarku yang duduk di sebelahku. Aku tak mau berakhir seperti bapak ini. Setidaknya, aku masih ingin memiliki banyak pilihan dalam hidup ini.

Ketakutan terbesarku adalah: Ketika aku meninggal, aku hanya dianggap sebagai orang yang meninggal saja dan ketakutan kedua adalah tidak memiliki banyak pilihan saat aku terdesak.

10784317.gif
Source: goodreads

Hufft!

Setidaknya, aku masih memiliki banyak pilihan sekarang. Setidaknya aku masih muda, aku masih bisa mengejar apa yang ingin kukejar.

Setidaknya aku sadar akan hal itu hari ini. Sekarang, saat umurku masih 25 tahun.

Terimakasih pak.

Semoga semua pengalaman bapak menjadi sumber inspirasi!

 

 

Jakarta, 4 Maret, 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s